Luka Mendalam Rohingya
sumber foto : reteurs/mohammad ponir hossain
Peluh menetes berganti air mata. Rohingya berada diambang ketakutan. Berbicara tentang Rohingya memang tidak ada habisnya. Kekejaman yang dilakukan terhadap muslim minoritas tersebut terus menjadi perhatian dunia. Diskriminasi Myanmar seakan mencekik Rohingya yang juga butuh kebebasan. Tidak hanya mental, diskriminasi juga koyak psikis Rohingya.
Akar diskriminasi Rohingya berawal dari tuduhan palsu bahwa etnis Rohingya yang datang ke negara Myanmar bukanlah berasal dari Bangladesh. Nenek moyang mereka berasal dari campuran Arab, Turki, Afghanistan, dan Indo-mongoloid. Kisah pilu etnis rohingya akan terus membekas.
Lidah kita seperti kelu, melihat betapa malang nasib mereka yang terbuang di negara yang katanya punya orang. Kalang kabut warga Rohingya mencari tempat persinggahan unruk sekadar beribadah. Terasingkan dari dunia yang menolak mentah-mentah kehadiran mereka. Rohingya bukan musuh, tetapi kenapa negara islam seakan bungkam?
Tentara Myanmar tanpa belas kasih telah melakukan penyiksaan, pelecehan, bahkan pembunuhan terhadap penduduk Rohingya. Pengusiran dilakukan dengan cara membakar rumah warga dan membantai siapa saja yang melakukan perlawanan. Sebagian besar wanita Rohingya yang selamat mengaku telah dilecehkan. Tidak sedikit pula anak-anak yang menjadi korban karena berusaha membela orang tua mereka yang disiksa.
Jumlah korban sudah tidak bisa dibilang sedikit. UNICEF mencatat dari 400.000 Rohingya, sekitar 60% korbannya adalah anak-anak. Seperti dilansir di VIVA.co.id, sekitar 1.400 anak Rohingya berhasil melintasi perbatasan Myanmar-Bangladesh. Sebagian besar mereka yang telah tiba di Bangladesh datang tanpa orang tua. Mereka harus meneruskan hidupnya sebagai yatim piatu.
Salah satu pengungsi bernama Nur Hossain (12) membagikan kisahnya kepada Aljazeera tentang bagaimana ia dan adiknya bisa selamat. Dari sembilan orang anggota keluarganya, hanya ia dan adiknya Jahura Begum (7) yang bisa selamat.
“Saat itu sekitar pukul 10 pagi, pada 25 Agustus ketika desa kami di Rodiongso, Maungdaw diserang. Saya menarik tangan adik saya, membawanya lari melintasi persawahan dan mengikuti warga desa lainnya.” ujarnya. “Kedua orang tua kami, Sultan Ahmed dan Hajera Khatun meninggal dalam serangan itu. Warga desa lainnya membawa kami ke sini.” lanjutnya.
Kisah di atas adalah contoh bagaimana dunia anak yang seharusnya bahagia terganti oleh kepanikan. Bukan hanya itu, bantuan juga tidak disegerakan. Membuat mereka merasakan kelaparan padahal sudah tak punya apa-apa.
Meskipun sudah melarikan diri dari Myanmar, hidup pengungsi Rohingya belum bisa dibilang aman. Pemerintah dari negara tempat mereka mengungsi bisa saja tiba-tiba mengusir karena terlalu banyak pengungsi yang terus berdatangan. Nasib pengungsi Rohingya masih terus terombang-ambing. Tanpa kepastian dan akan terus dicap sebagai warga tanpa negara.





